Pilah-Pilah Teman Traveling

Traveling jadi makin seru kalau ada teman. Apalagi yang cocok. Cuma nggak selamanya kita berjodoh dengan partner yang sejiwa. Belum lagi masalah mencocokkan jadwal. Kalau hanya keukeuh mau pergi dengan orang yang itu-itu aja, bisa-bisa kita nggak kemana-mana. Karena itu memilih teman traveling itu penting. Kecuali kamu hobi solo traveling.

Yang pertama harus dilakukan adalah mengenali dirimu dan gaya travelingmu. Apa kamu tipe orang yang ribet, backpaker, woles, bosenan, atau yang lainnya. Setelah itu coba baca karakter calon teman travelingmu seperti apa. Kira-kira bakal match nggak.

Setelah beberapa kali traveling dengan berbagai macam teman, ada beberapa tipe teman traveling menurut saya.

1. Saudara alias keluarga

Traveling bareng keluarga nggak selamanya membosankan. Saya belajar traveling dari keluarga. Kalau nggak sedari kecil diajak traveling, tentu saya nggak akan hobi jalan.

Bisa dimulai dengan mengunjungi saudara di kota atau desa yang terdekat dari rumah. Selain menyambung tali silaturahim, kamu bisa diajak jalan ke destinasi di sekitar mereka. Bonusnya, akomodasi dan makan gratis. Seperti ketika saya bertandang ke Pulau Merah Banyuwangi.

Yuk, mulai bikin daftar nama keluarga dan kota tempat tinggal mereka. Lalu, tentukan waktu dan kunjungi mereka.

2. Local friend

Punya teman yang mengenal daerah destinasi wisata itu anugerah. Apalagi kalau pertama kali ke daerah tersebut. Saya punya teman asli Lombok dan dia menjadi guide kita selama di Lombok. Dia juga yang mengatur itinerary, memesankan penginapan, dan mengatur transportasi, hingga saya bisa ke Air Terjun Benang Kelambu, dan ke Banyumulek pusat kerajinan tanah liat). Masih  menjamu kami di Rumah Sang Paman. Kurang komplit apa coba?

3. Organized person

Mereka tipe orang yang terorganisir. Cirinya suka bikin itinerary (walaupun nggak tertulis ya). Sebelum berangkat, dia sudah tahu mau ke destinasi mana aja, makan dimana, nginep dimana, dan sejenisnya. Terus terang saya suka dengan teman model ini karena kita tinggal terima beres aja. Apalagi kalau kamu tipe orang yang males mikirin detil.

Kalau saya pergi dengan teman yang nyantai dan woles, saya bakal jadi tipe ini. Beberapa perjalanan saya yang mengorganisir, misalnya Reuni Rafting di Bali, Bromo, Malang, Karimunjawa, dan beberapa perjalanan lainnya.

Saya termasuk organized person juga, tapi saya juga bisa percaya sepenuhnya kalau saya tahu kredibilitas teman saya. Biasanya saya sedikit mengetes teman saya. Bagaimana cara dia mengatur perjalanan dekat. Setelah tahu beres, baru saya percayakan sepenuhnya ke destinasi yang jauh.

Saya pernah backpacker KL-Singapur-Bangkok dan tidak menyiapkan itinerary. Saya juga buta hitung-hitungan kurs dan tidak menyadari perbedaan waktu antara Singapura dan Bangkok. Meski ketinggalan pesawat, saya tidak menyesal mempercayai teman saya mengatur itinerarynya.

4. Teman yang jaringannya luas

Kalau kamu nggak punya banyak teman yang hobi traveling, cukup punya 1 teman yang punya banyak koneksi traveling. Cirinya, dia suka bikin acara traveling. Tempel aja teman model begini. Kalian tinggal minta ikut di acara traveling yang kamu suka.

Saya punya satu teman model begini. Berkat dia, saya bisa ke Dieng naik motor dari Jogja dan keliling Lombok Barat. Dia yang menghubungkan saya dengan teman yang di Lombok, mencarikan teman bermotor dari Jogja ke Dieng, mengenalkan teman yang punya rumah di Dieng sehingga bisa jadi tempat bermalam.

Sebaliknya, kalau dia di Sidoarjo, gantian saya yang jadi tuan rumah sekaligus teman jalan.

5. Partner of crime

Seneng juga kalau punya teman yang siap diajak traveling. Apalagi dia di dekat kalian, bisa teman kantor, sekolah, atau tetangga. Yang penting punya tujuan dan hobi yang sama. Ini bisa jadi penyemangat dan backup kerjaan atau tugas.

Dulu saya punya teman sekantor dan teman sekolah model begini. Selain jadi penyemangat, mereka juga bisa membantu kita memenuhi deadline atau tugas kantor. Saling membantu sehingga kita bisa cuti bersama di saat yang tepat.

6. Pasangan

Ehem! Ini juga penting. Katanya, orang akan terlihat sifat aslinya ketika traveling. Karena itu penting buat saya mengajak pacar traveling, apalagi kalau hubungan dirasa makin serius. Seperti perjalanan ke Kawah Putih. Kalau tidak bisa sukses merancang satu perjalanan, apalagi menjalani biduk rumah tangga bukan?  

7. Teman yang santai

Jangan salah, kita juga perlu teman yang santai dan siap menghadapi apapun. Teman yang bisa tidur nyenyak di bus yang penuh sesak. Yang bisa santai, walaupun ketinggalan pesawat. Yang nggak panik kalau nyasar. Karena inti dari traveling itu, bersenang-senang. Kalau kita terlalu mikirin budget atau itinerary, mungkin kita malah nggak bisa menikmati pemandangan indah yang tidak setiap hari kita dapatkan.

Yang terakhir ini saya banget.

Kalau kamu tipe yang mana?

Mywowtravel.com is your wow travel story.

Share via :
Only member can wowing to this article. Register now here