KAPAN SINGAPARNA LEBIH BAGUS DARI SINGAPORE

Lho emang kenapa ? Hehehe .. judul di atas hanya "satire", namun tidak bermaksud merendahkan yang satu dengan memuja yang lain. Ini sekedar tulisan menyemangati yang satu dengan spirit mau belajar dari kelebihan yang lain. Walau lebih dan kurang itu relatif.
Singapore, awal sebenarnya "hanya" sebuah pulau kecil yang diberi nama Tumasik, milik Kesultanan Johor, Malaysia. Itu adalah pulau kumuh, tempat hidup para nelayan miskin yang kemudian disewa dan akhirnya dikuasai oleh Sir Thomas Stamford Raffles selaku Gubernur Jenderal Asia-Pacific untuk kerajaan Inggeris. Di tangan dingin Raffles, pulau kumuh itu disulap menjadi pelabuhan transit bagi kepentingan Inggeris. Sehingga ketika kemudian Malaysia merdeka, LEE KWAN YEW mampu "melepaskan diri" Singapore dari Malaysia, berdiri sebagai negara "mungil" pada 9 Agustus 1965.

Ketika saya dan keluarga datang berkunjung ke negeri "singa" - untuk kesekian kalinya, Jumat 19 Agustus 2016 - dari sejak di bandara CHANGI, saya tidak melihat seekorpun singa, kecuali gambar "silhouette" logo negara yang serba praktis ini di banner dan bendera terpasang di sepanjang jalan.

Dengan tidak mengungkit segala keburukannya, kami menyusuri jalan panjang selepas bandara menuju daerah / distrik yang baru dibangun, di Punggol Waterway. Kami melihat lalu lintas agak padat, lancar, tertib. Di tepi sepanjang jalan, kiri kanan, selalu khas ada pedestarian rumput, pohon rindang dan trotoar untuk pejalan kaki, nampak rapi, indah, sejuk dipandang meski suhu di HP nampak angka 31'C. Tak nampak satupun Polisi berseragam di perempatan mengatur lalu lintas jalan raya, kecuali CCTV (Closed-Circuit Television) - kamera pengintai - yang dikabarkan / diumumkan dipasang di segala sudut penjuru negeri.

Ternyata kami tak langsung ke apartemen di Punggol Waterway, mampir dulu di Waterway Point untuk makan dan sight seeing - dan tentu saja wefie "kemayu" di angle yang terpilih .. hehehe .. Di jajaran Resto dan cafe yang kami lihat, beberapa ada terpampang tulisan HALAL yang nyaris tak lazim kami lihat di Indonesia. Ini sangat membantu pengunjung Muslim yang sedang melancong. Sebuah budaya negeri (country Culture) yang patut diacungi jempol. Sepertinya tak ada resto yang sepi, semua ramai. "Gak ada yang sempat masak dan makan di rumah ya, di negara yang super suibuk ini", pikir saya. Dan satu lagi, di beberapa sudut gedung selalu ada gambar dan tulisan yang memberitahu kita, bahwa gedung ini dilengkapi CCTV. Di toko-toko juga ada banner gambar Polisi yang menuding kita dengan tulisan : "Theft is Crime" atau "Law Crime does't mean No Crime". Jadi, kita harus tetap waspada.

Wah, sepertinya tak cukup sekali ya, saya bikin reportase perjalanan (traveling journal/report), hari sudah mulai larut. Sampai besuk.
Semoga journal ini bisa membangkitkan inspirasi dan semangat kita merubah SINGAPARNA dan kota-kota di INDONESIA tak kalah dengan SINGAPORE.