Vaksin yang Dibutuhkan Sebelum Bepergian: Bagian Satu

Jika ingin ke luar negeri, tak hanya paspor atau visa yang mesti dipersiapkan. Namun, juga vaksinasi. Tak hanya perjalanan haji dan umroh saja yang membutuhkan vaksin tertentu, tetapi juga lawatan ke negara lain. Ada beberapa negara yang mewajibkan vaksin tertentu sebelum masuk ke negaranya.
Yang lebih penting lagi, vaksin ini sebenarnya untuk menjaga kesehatan dan keselamatan Anda. Karena ada banyak penyakit mematikan yang hanya ada di negara-negara tertentu. Sebelum bepergian, sebaiknya cek riwayat vaksin. Anda bisa menanyakan kepada keluarga atau dokter langganan. Hal ini untuk mengecek Anda sudah mendapatkan vaksin apa saja.
Meski biaya vaksin terkadang tidak murah, anggap saja ini investasi menjaga keselamatan selama bepergian. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, karena itu berjaga-jaga akan lebih baik.
Berikut vaksinasi utama untuk wisatawan.
- Vaksin rutin
Apakah Anda sedang di rumah atau bepergian, vaksin ini penting untuk kesehatan Anda, yaitu:
- Measles (campak) – Mumps (gondongan) – Rubela (MMR)
- Difteri-pertusis-tetanus (DPT)
- Varicella (chickenpox/cacar air)
- Polio
Meskipun semua ini vaksin rutin dan beberapa sudah diberikan gratis oleh negara, tetapi ada baiknya Anda cek kembali. Karena beberapa tahun terakhir muncul wabah penyakit yang sudah lama hilang.
Seperti wabah difteri yang terjadi di beberapa negara termasuk di Indonesia, Yaman, Venezuela, Myanmar, dan Australia. Difteri ini penyakit yang mematikan yang sebenarnya bisa dihindari dengan vaksinasi. Karena itu penting untuk mengetahui riwayat vaksinasi Anda.
2. Yellow fever/demam kuning
Yellow fever merupakan penyakit yang disebarkan dari gigitan nyamuk yang terinfeksi. Yellow fever terjadi di Afrika sub-Sahara dan Amerika Tengah dan Selatan. Pasien yang mengalami gejala yang parah biasanya meninggal setelah 10 hingga 14 hari.
Untuk menghindari penyebaran internasional penyakit ini, beberapa negara meminta bukti atas vaksin yellow fever saat memasuki negaranya (Angola, Benin, Burkina Faso, Burundi, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Kongo, Republic of the Côte d’Ivoire, Democratic Republic of the Congo, French Guiana, Gabon, Ghana, Guinea-Bissau, Mali, Niger, Sudan Selatan, Sudan, Togo, dan Uganda). Negara lain meminta bukti vaksin hanya jika wisatawan berada di wilayah berisiko.

3. Typhoid/tipes
Tipes merupakan penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air. Risiko tertinggi tipes untuk wisatawan adalah di beberapa area Asia (terutama India, Pakistan, dan Bangladesh), beberapa area di Afrika, Karibia, Amerika Tengah dan Selatan, serta Timur Tengah. Tipes muncul di negara-negara yang makanan dan sanitasinya buruk.
Vaksin tipes hanya efektif sebanyak 50-80 persen. Karena itu Anda harus ekstra berhati-hati atas apa yang dikonsumsi selama berada di area berisiko.
4. Hepatitis A
Hepatitis A adalah penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air. Selain juga bisa lewat tangan penderita hepatitis A dan, meski jarang, melalui kontak seksual. Sama seperti tipes, hepatitis A sangat umum terjadi di negara yang makanan dan sanitasinya buruk.
Vaksinnya 100 persen efektif dan membutuhkan dua dosis yang disuntikkan dalam selang waktu enam bulan.
5. Hepatitis B
Hepatitis B adalah virus yang menular melalui darah, produk darah, dan cairan tubuh yang lain. Negara-negara dengan prevalensi infeksi Hepatitis B sebagian besar di Afrika dan sebagian Asia.
Vaksinnya 98-100 persen efektif dengan tiga dosis. Dosis kedua diberikan sebulan setelah dosis pertama, dan dosis terakhir diberikan setelah enam bulan dosis pertama.
6. Kolera
Kolera adalah infeksi usus parah yang disebabkan oleh konsumsi makanan dan/atau air yang terkontaminasi bakteri kolera. Wisatawan jarang berisiko terinfeksi kolera kecuali mereka berada di area berisiko tinggi untuk waktu yang lama dan mengonsumsi makanan dan air yang tidak aman.
Beberapa negara tempat penularan kolera aktif seperti di Benin, Kamerun, Republik Demokratif Kongo, Ethiopia, Kenya, Mozambique, Niger, Nigeria, Somalia, Bangladesh, India, Nepal, dan Yaman.
Vaksin kolera diberikan secara oral dalam satu dosis, setidaknya 10 hari sebelum terpapar bakterinya.

7. Rabies
Rabies ditularkan melalui air liur hewan gila (anjing, kelelawar, monyet, rubah, rakun, cerpelai, dan sebagainya). Manusia biasanya terinfeksi setelah dijilat, digigit, atau dicakar hewan terinfeksi.
Rabies ditemukan di berbagai belahan dunia selain di Antartika. Namun, risiko tertinggi ada di Afrika, Asia, dan Amerika Tengah dan Selatan.
Pencegahan adalah kunci untuk virus ini karena ketika gejalanya muncul, pasti sudah fatal. Vaksin rabies ada tiga dosis (hari-H, ketujuh, dan ke-21 atau 28) diberikan setidaknya satu bulan sebelum bepergian ke area berisiko.
Meski sudah divaksin rabies atau belum, jika Anda digigt, dijilat, atau dicakar hewan di area berisiko tinggi, segera cari bantuan medis. Cara terbaik menghindari rabies adalah dengan tidak mendekati hewan, terutama di area berisiko tinggi. Gejala hewan gila sering tidak jelas, jadi lebih baik berhati-hati.
8. Japanese encephalitis (JE)
JE adalah penyakit radang otak yang disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh nyamuk. JE ini bisa sangat fatal dan belum ada pengobatannya.
Untuk wisatawan yang ke Asia, risiko terinfeksi JE sangat rendah, tetapi hal itu bergantung destinasi, durasi, musim, dan aktivitas masing-masing. Wisatawan yang tinggal di pedesaan selama beberapa bulan dan banyak beraktivitas di luar ruangan adalah yang paling berisiko.
JE menyebar selama musim panas dan gugur di daerah beriklim sedang, dan sepanjang tahun di daerah tropis dan subtropids di Asia Tenggara. Vaksinnya harus diselesaikan setidaknya enam minggu sebelum keberangkatan. Vaksinasi terbagi dalam dua dosis yang diberikan dalam selang waktu tujuh hingga 28 hari.
9. Meningococcal Disease/penyakit meningokokus
Penyakit ini ditularkan dari orang ke orang melalui tetesan cairan pernapasan atau tenggorokan. Berciuman, bersin, batuk terciprat ke orang lain, atau berbagi akomodasi dengan orang terinfeksi memudahkan penularan. Lima hingga sepuluh persen pasien meninggal, biasanya setelah 24 hingga 48 jam setelah gejala muncul.
Hanya mereka yang bepergian dalam waktu lama di daerah berisiko di Afrika sub-Sahara selama musim kering (Desember hingga Juni) berisiko dan butuh divaksin.
Para jamaah Haji dan Umroh ke Arab Saudi harus menunjukkan bukti vaksin ini. Diperlukan waktu tujuh hingga 10 hari setelah penyuntikan agar vaksin dapat efektif sepenuhnya.
10. COVID-19
COVID-19 adalah penyakit pernapasan menular yang menyebar melalui tetesan dan partikel virus yang dilepaskan ke udara ketika orang yang terinfeksi bernapas, berbicara, tertawa, bernyanyi, batuk, atau bersin. Virus ini bisa menjadi fatal atau menyebabkan masalah kesehatan dalam jangka panjang. COVID-19 terjadi di seluruh dunia.
Bersambung ke bagian dua yang akan membahas penyakit lain yang belum tersedia vaksinnya dan bagaimana pencegahannya.
