Vaksin yang Dibutuhkan Sebelum Bepergian: Bagian Dua

Bagian satu sudah menjelaskan beberapa vaksin yang dibutuhkan wisatawan. Sebelum memutuskan untuk mendapatkan vaksin tertentu, tentu Anda harus menilai semuanya. Apakah negara tujuan meminta bukti vaksin, apakah ada penyakit mematikan di negara tujuan yang sudah tersedia vaksinnya, dan sebagainya.
Vaksin dimana?
Silakan mengecek fasilitas kesehatan terdekat. Apalagi sekarang sudah banyak klinik khusus vaksin.
Apakah ada efek samping vaksin?
Ada beberapa keluhan ringan setelah vaksin seperti bengkak, demam ringan, atau ruam kulit. Namun, jarang sekali terjadi keluhan berat. Perlu diingat bahwa risiko penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin jauh lebih besar, dibanding risiko efek samping vaksin.
Kapan vaksin harus diberikan? Berapa lama kekebalannya berlangsung?
Semakin awal pemberian vaksin, semakin baik. Pastikan untuk mengecek kedua situs di atas dan buat janji untuk vaksin, segera setelah Anda mengetahui tujuan dan kapan akan bepergian. Meski misal, keberangkatannya masih enam bulan ke depan. Ini karena:
Vaksin meminta sistem kekebalan tubuh untuk merespon antigen yang disuntikkan dengan mengembangkan antibodi. Namun, menciptakan pertahanan ini tidak terjadi dalam satu malam. Jadi, ketika Anda mendapatkan vaksin sepenuhnya hanya seminggu sebelum keberangkatan, Anda mungkin tidak terlindungi sepenuhnya.
Terbukti bahwa vaksin yellow fever hanya valid 10 hari setelah penyuntikan. Beberapa vaksin membutuhkan lebih dari satu dosis penyuntikan dengan jarak beberapa bulan. Misalnya: Hepatitis A membutuhkan dua dosis penyuntikan dengan jeda enam bulan agar lebih efektif.
Durasi perlindungan bergantung tiap vaksin. Vaksin yellow fever proteksinya seumur hidup, tetapi dokter menganjurkan untuk mendapatkan suntikan booster setelah 10 tahun. Untuk penyakit tifus, suntikan booster diperlukan setelah dua tahun.
Jangan berasumsi bahwa Anda masih terlindungi dari suatu penyakit jika Anda sudah lama vaksin. Pastikan ke dokter untuk mendapatkan saran medis.
Bukti vaksin
Sekarang saatnya mencari riwayat vaksin Anda, seperti aplikasi satusehat yang sudah mencantumkan data vaksin Covid-19.
Untuk vaksin yellow fever, Anda membutuhkan kartu kuning yang disebut International Certificate of Vaccination or Prophylaxis (ICVP). Ini bukti bahwa Anda sudah divaksin yellow fever. Kartu ini hanya berlaku 10 hari setelah penyuntikan.
Sebaiknya selalu membawa kartu riwayat vaksin dalam bentuk cetak atau online saat bepergian, meski negara yang dituju tidak meminta bukti vaksin.

Dua penyakit umum untuk wisatawan dimana belum ada vaksinnya adalah:
1. Malaria
Beberapa vaksin malaria untuk anak-anak sudah mulai diberikan di beberapa negara di Afrika Sub-Saharan sejak 2021. Namun, untuk penggunaan yang lebih luas, vaksin malaria masih dalam taraf pengembangan.
Hingga vaksin malaria resmi digunakan secara umum, tersedia beberapa pilihan obat malaria untuk wisatawan yang akan mengunjungi area berisiko. Mintalah dokter Anda untuk merekomendasikan yang cocok.
Obat anti-malaria harus dikonsumsi sebelum, selama, dan setelah perjalanan. Karena itu, seperti vaksin, jangan menunggu mepet untuk berkonsultasi dengan dokter tentang kesehatan Anda sebelum bepergian.
2. Diare menular
Diare menular merupakan penyakit yang ditularkan melalui makanan dan/atau air. Wisatawan bisa mencegahnya dengan memastikan hanya mengonsumsi minuman dan minuman yang dimasak atau disiapkan dengan bersih.
Biasanya diare ini bisa sembuh sendiri selama empat hingga lima hari, tetapi akan membuat Anda terlihat menyedihkan. Ada antibiotik yang bisa mengatasi infeksi ini. Mintalah kepada dokter sebelum bepergian.
Yang perlu diperhatikan, obat diare populer Imodium tidak menyembuhkan, tetapi akan mengurangi frekuensi BAB Anda. Jangan mengonsumsi Imodium, kecuali Anda membutuhkannya (misalnya untuk perjalanan panjang naik bus atau pesawat).
Zika, schistosomiasis, dan beberapa penyakit lainnya, belum ada vaksinnya. Wisatawan yang akan bepergian ke area yang terinfeksi harus berupaya semaksimal mungkin untuk beradaptasi demi keamanan dan kesehatan pribadi.
Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan
Hindari serangga dengan:
- Menggunakan pengusir serangga (obat semprot, lotion oles, dan sejenisnya)
- Memakai baju lengan panjang, celana panjang, dan topi
- Menggunakan kelambu anti nyamuk dan tinggal di tempat yang bersih
- Berada di dalam ruangan ketika nyamuk sedang paling aktif
- Menggunakan pakaian dan peralatan yang diberi permethrin (pembasmi serangga)
Hindari paparan terhadap kuman dengan:
- Menghindari kontak dekat dengan orang yang terinfeksi (berciuman, berpelukan, dst)
- Menggunakan masker jika berkontak dengan orang asing
- Menghindari kerumunan
- Tidak berbagi makanan dan minuman dengan orang lain
- Selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer
- Tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan

Makan dan minum dengan aman, caranya:
- Merebus air sebelum diminum atau hanya minum dari kemasan bersegel
- Hanya mengonsumsi makanan yang panas dan dimasak hingga matang dari tempat yang bersih
- Hanya mengonsumsi buah dan sayur yang bisa dicuci dan dikupas sendiri (jika dicuci dengan air yang terkontaminasi, Anda akan terinfeksi)
- Hanya makan dan minum produk susu yang dipasteurisasi
- Hindari makanan jalanan, jika kebersihannya masih dipertanyakan
- Tidak memasukkan es ke dalam minuman (es yang dibuat dengan air yang terkontaminasi akan membuat Anda sakit)
Hindari berbagi cairan tubuh dengan:
- Menggunakan kondom atau tidak melakukan hubungan seksual
- Menghindari tato, tindik, akupuntur, atau tindakan medis yang tidak penting
- Menghindari spa atau salon kecantikan yang sepertinya tidak higienis
Menjauhi hewan liar atau tersesat
Sumber:
https://matadornetwork.com/read/travel-vaccines-expedition-doctor/
Kunjungi web ini untuk informasi lebih lengkap:
https://www.who.int/travel-advice/vaccines
