Sudahkah Menjadi Pelancong yang Bertanggung Jawab?

Semua orang pasti berpikir mereka adalah pelancong yang baik dan bertanggung jawab. Benarkah ketika mengunjungi tempat wisata kita sudah menjadi pelancong yang baik?

Fakta pahitnya adalah, kita semua pelancong yang buruk, karena tidak ada pelancong yang sempurna.

Namun, kita semua bisa berusaha menjadi pelancong yang bertanggung jawab.

Tak bisa dipungkiri kehadiran media sosial dan influencer traveling mendorong overtourism. Tujuan awalnya baik, untuk mengenalkan destinasi wisata yang sedang berkembang. Namun, ketika sudah menjadi viral, kita tetap saja memajang foto dan video di tempat yang sama. Demi views, kita tetap memajang foto dan video destinasi wisata yang sebenarnya sudah tidak perlu lagi dipopulerkan.

Karena itu sebaiknya mulai saat ini kita niatkan untuk menjadi pelancong yang baik, bertanggung jawab, dan beretika. Ini saatnya kita memberikan dampak terbaik untuk komunitas atau daerah yang dikunjungi.


Pertimbangkan kembali seberapa sering Anda menginap di Airbnb

Dalam satu dekade terakhir, tidak ada perusahaan yang mengubah industri perjalanan secara drastis seperti Airbnb. Tiba-tiba, orang bisa memesan apartemen milik orang lain dan menginap di sana, alih-alih di hotel yang membosankan. Pengalamannya terasa lokal! Autentik! Keren! Tak lama kemudian, popularitas Airbnb pun melonjak pesat.

Lantas, di mana letak masalahnya? Pemilik properti menyadari bahwa mereka bisa meraup keuntungan jauh lebih besar dari penyewaan jangka pendek bagi wisatawan, sehingga mereka menarik unit apartemen tersebut dari pasar perumahan umum. Akibatnya, ketersediaan hunian kian menipis dan harga pun melambung tinggi. Situasi ini semakin diperparah di wilayah yang memang sudah mengalami kekurangan pasokan hunian.

Banyak kota telah memberlakukan peraturan terkait Airbnb. Di New York misalnya, Anda tidak bisa menginap di Airbnb kecuali jika penyewa utamanya berada di lokasi atau Anda menginap selama lebih dari 30 hari. Artinya, Anda tidak bisa begitu saja memesan apartemen di East Village untuk sekadar menghabiskan akhir pekan. Hal itu melanggar hukum.

New Orleans menerapkan sistem serupa. Semua properti sewaan Airbnb wajib terdaftar di situs web pemerintah dan memiliki izin yang dipajang di jendela. Masalah utamanya, peraturan-peraturan ini sangat jarang ditegakkan. Aturan-aturan tersebut hanya formalitas tanpa memberikan dampak nyata. Di negara-negara yang tidak memiliki regulasi terkait hal ini, situasi perumahan bisa menjadi tidak terkendali.

Lalu, apa solusinya? Sederhana saja: menginaplah di hotel, hostel, atau penginapan yang sesungguhnya! Dengan begitu, kita tidak akan memberi dampak negatif terhadap pasar perumahan lokal.

Jika ingin menginap di apartemen, Anda bisa menyewa kamar di rumah orang lain alih-alih menyewa seluruh unit hunian. Sebagian orang mungkin merasa lebih nyaman menyewa apartemen yang memang dihuni pemiliknya (saat pemilik sedang bepergian) daripada menyewa apartemen milik perusahaan. Selain itu, layanan Couchsurfing juga masih ada!

Berhentilah memotret anak-anak!

Ini adalah ranah privasi. Meski anak-anak dan mungkin belum paham, mengambil foto mereka tetap membutuhkan persetujuan dari orangtua atau pengasuhnya. Sudah banyak kasus penculikan, perdagangan anak, pedofilia, dan kasus kejahatan lain yang menargetkan anak-anak di dunia maya.

Sudah saatnya kita lebih peduli terhadap privasi, baik untuk diri sendiri maupun untuk anak-anak. Anak-anak berhak memutuskan apakah foto mereka boleh ditampilkan di internet atau tidak, dan kebanyakan anak masih terlalu kecil untuk memberikan persetujuan semacam itu. Karena itu jangan pernah membagikan foto bayi-bayi. Bayangkan perasaan orangtua yang foto anaknya diam-diam tersebar di internet. Sungguh mengerikan.

Sebelum memotret anak, tanyakan hal-hal berikut kepada diri sendiri. Apakah benar-benar perlu memotret anak-anak? Apakah tindakan itu benar-benar membuat perjalanan lebih bermakna? Apa manfaatnya bagi kehidupan seseorang jika foto itu diunggah ke internet?


Bersikaplah sangat selektif dalam memilih aktivitas yang melibatkan hewan

Interaksi dengan hewan merupakan konten yang sangat menarik di media sosial. Siapa yang bisa menolak foto Anda sedang memeluk anak-anak harimau yang mungil dan menggemaskan?

Ternyata, banyak dari aktivitas ini bersifat menyiksa hewan. Gajah dilatih untuk membawa penumpang dengan cara dicambuk hingga semangat mereka hancur. Interaksi jarak dekat dengan harimau dan cheetah hanya bisa terjadi karena hewan-hewan tersebut dibius. Pertunjukan lumba-lumba dan aktivitas berenang bersama lumba-lumba melibatkan penangkaran hewan liar.

Prinsip yang baik adalah memilih aktivitas yang sekadar mengamati satwa liar, alih-alih berinteraksi langsung dengan hewan-hewan tersebut. Safari? Bagus sekali. Mengamati paus? Luar biasa. Snorkeling bersama ikan, sembari menjaga jarak aman dari terumbu karang dan menggunakan tabir surya yang aman bagi terumbu karang? Keren.


Pertimbangkanlah untuk mengimbangi emisi dari penerbangan Anda

Meskipun Anda menjalani gaya hidup yang relatif rendah dampak lingkungan, seperti tinggal di apartemen, tidak memiliki mobil, dan menjalani pola makan vegan. Jejak karbon Anda akan melonjak drastis begitu melakukan penerbangan jarak jauh.

Namun, Anda bisa mengimbangi emisi penerbangan tersebut. Caranya adalah dengan membeli kredit karbon, yaitu dana yang Anda bayarkan, kemudian digunakan oleh perusahaan untuk menanam pohon atau berinvestasi dalam usaha yang hemat energi. Sebagai contoh, dana tersebut bisa disalurkan kepada pemilik lahan agar pohon-pohon di sana tidak ditebang atau digusur.

Dalam kasus ini, sekadar melakukan pengurangan saja tidaklah cukup. Situasi darurat iklim kita sudah sangat parah dan kita perlu menetralkan dampak yang kita timbulkan. Cobalah mengunjungi CarbonFund.org untuk informasi lebih lanjut.

Bersambung ke bagian kedua.

Share via :
Only member can wowing to this article. Register now here