Sudahkah Menjadi Pelancong yang Bertanggung Jawab? Bagian kedua

Sebagai pelancong yang suka menikmati keindahan destinasi wisata, ada baiknya kita mulai berkontribusi terhadap komunitas atau masyarakat sekitar.

Di bagian satu, sudah ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi pelancong yang baik, bertanggung jawab, dan beretika. Ini kelanjutannya.

Lakukan perubahan kecil namun bermakna pada pola makan Anda.

Salah satu cara terbaik untuk mengurangi jejak karbon Anda adalah dengan mengurangi konsumsi produk hewani, terutama daging sapi. Bukan berarti menjadi vegan. Namun, membiasakan diri untuk mengonsumsi lebih sedikit daging daripada biasanya, sangat berdampak besar.

Tahukah Anda bahwa dunia akan berubah secara drastis jika setiap orang melakukan perubahan-perubahan kecil. Bahkan, sekadar tidak mengonsumsi daging satu hari dalam seminggu saja bisa memberikan dampak yang besar.

Selain itu, pilih restoran atau tempat makan yang menggunakan bahan makanan lokal dan sedang musim. Hal itu akan mempengaruhi jejak karbon Anda sekaligus mendukung pelestarian bahan makanan lokal.

Bacalah buku yang ditulis oleh penduduk setempat, bukan hanya penulis perjalanan terkenal.

Membaca buku karya penulis perjalanan dapat memberikan wawasan tak ternilai yang tidak bisa diberikan oleh penduduk setempat, terutama jika karya tersebut ditulis oleh penulis berbakat atau merupakan karya jurnalistik. Namun, masalah muncul ketika kita hanya membaca buku-buku semacam itu dan mengabaikan kisah-kisah yang dituturkan oleh penduduk setempat.

Membaca buku karya penulis lokal saat Anda berada di destinasi tujuan dapat memberikan dimensi baru yang kaya pada kunjungan Anda. Misalnya karya Ngugi wa Thiong’o saat berada di Kenya dan Murakami saat di Jepang. Keduanya memberikan pemahaman yang jauh lebih mendalam mengenai negara tersebut berdasarkan perspektif penulis lokal.

Berbelanja langsung kepada pelaku usaha setempat.

Ingin membeli suvenir? Belilah langsung dari perajinnya. Gelang manik-manik yang sama mungkin akan dijual di bandara saat perjalanan Anda berakhir. Namun perajinnya akan mendapatkan keuntungan lebih jika membeli langsung ke mereka.

Hal ini juga berlaku untuk bisnis lokal lainnya. Pertimbangkan untuk menginap di hotel milik warga setempat daripada di cabang hotel jaringan internasional. Dengan cara itu, warga lokal akan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar.

Jika Anda seorang blogger, influencer, atau seseorang yang memiliki platform publik, mohon pertimbangkan dampak Anda terhadap fenomena overtourism.

Apa itu overtourism? Ini adalah kondisi ketika suatu destinasi wisata menjadi begitu kewalahan akibat lonjakan wisatawan hingga mulai menimbulkan dampak negatif bagi destinasi tersebut. Misalnya seperti di Bali, Islandia, Barcelona, Koh Phi Phi, Venesia dan Machu Picchu. Beberapa daerah bahkan berupaya keras membatasi jumlah pengunjung.

Jangan lagi mempopulerkan atau menganjurkan destinasi yang sudah ramai. Jika Anda dengan mudah menemukan segudang artikel tentang suatu daerah, itu salah satu tanda daerah tersebut sudah overtourism. Berkunjunglah ke tempat lain. Atau minimal tidak mempostingnya.

Luangkan waktu untuk memikirkan tindakan Anda.

Saat merencanakan perjalanan, ada baiknya kita mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri:

- Mengapa saya ingin melakukan ini?

- Bagaimana dampaknya bagi penduduk setempat?

- Bagaimana dampaknya bagi planet ini?

- Apa yang akan terjadi jika puluhan orang mengikuti jejak saya?

Contohnya, jika Anda bersikeras menginap di Airbnb di kota yang overtourism, cobalah pahami motivasi Anda. Apakah Anda ingin menginap di sana karena tempat itu "keren"? Padahal, semakin banyak hotel keren bermunculan, terutama di kawasan-kawasan yang trendi.

Apakah karena tidak ada hotel di kawasan tersebut? Anda bisa menginap di hotel di kawasan lain yang tak jauh dari sana, lalu menggunakan transportasi umum untuk menuju kawasan keren tersebut.

Apakah karena harganya lebih murah? Coba cek hostel. Semakin banyak hostel yang kini berkelas tinggi dan menawarkan kamar pribadi berkualitas yang setara dengan hotel.

Intinya adalah mengesampingkan keinginan pribadi demi kebaikan yang lebih besar. Semua tindakan kita mengandung konsekuensi. Saatnya untuk melakukan refleksi diri dan memikirkan bagaimana kita bisa menjadi lebih baik.

https://www.adventurouskate.com/how-to-be-less-of-a-traveling-asshole-in-2019/

Share via :
Only member can wowing to this article. Register now here