Kuliner di Kenjeran: Popcorn Kelapa Jadul dan Warung Pinggir Pantai

Saat jalan-jalan di Taman Suroboyo, aku tertarik dengan penjual jajanan ini. Bentuknya mirip popcorn, tetapi ukurannya lebih kecil. Namanya Brondong.

Usut punya usut, ini jajanan jadul asli Lamongan. Lamongan ini kota kecil yang mepet Surabaya. Ternyata setelah aku cari di google, lumayan banyak penjual brondong kelapa ini. Yang paling sering mangkal di Taman Bungkul atau ada juga yang di depan SMAMDA Surabaya.

Brondong yang kecil-kecil ini dicampur dengan parutan kelapa, gula, dan garam. Harganya Rp 5ribu per porsinya.

Kalau makan poporn ala barat, tinggal ambil pakai tangan. Ini pakai sendok bebek plastik. Sepertinya supaya kelapa parut dan campuran brondongnya sampai ke mulut kita. Gong rasanya! Tidak serenyah popcorn, tetapi empuk, krenyes-krenyes dari campuran kelapanya. Rasanya manis, asin, gurih. Nagih banget!

Kalau popcorn barat biasanya rasanya kuat. Entah yang manis atau asin. Brondong ini sopan banget rasanya. Semuanya berpadu harmonis, tidak ada yang lebih menonjol satu sama lain. Ini pertama kalinya aku makan jajanan jadul ini.

Setelah dari Taman Suroboyo, kami keluar untuk mencari makan. Di sepanjang jalan kenjeran terdapat banyak warung-warung yang menghadap laut. Sepertinya dahulu malam-malam aku pernah ke sini. Duduk di pinggir pantai di atas batu sambil melihat laut malam.

Namun, sekarang semua sudah menjadi warung. Kalau mau puas memandang laut, sebaiknya pilih salah satu dan duduk di dalamnya.

Hampir semua warung menjual menu yang mirip. Mulai dari bakso, mi ayam, ayam atau ikan penyet, kotokan iwak pe, kupang, nasi goreng, mi instan, dan aneka minuman, terutama es degan.

Kami memilih warung yang paling dekat dengan jalan raya. Memesan berbagai macam hidangan. Seperti kupang, sate kerang, mi ayam, bakso, ikan dan ayam sambel. Minumnya tentu saja es degan dan beberapa minuman dingin kemasan lainnya.

Sambil menunggu, kami menikmati semilir angin pinggir pantai. Ada tangga menuju pantai. Mungkin kalau air pasang, kami bisa main air. Sayangnya saat itu, air sedang surut. Untung saja warung sedang sepi, sehingga kami bisa bebas rebahan sambil menunggu makanan.

Saat pesanan datang, aku kaget dengan bentuk kupangnya. Kupangnya lebih dari kecil dari yang biasa aku makan. Aku biasanya makan kupang Sidoarjo. Ukuran kupangnya lebih besar dari kupang Kenjeran. Kupang ini sejenis kerang. Mungkin karena habitatnya berbeda, jadi ukurannya beda. Begitu juga dengan sate kerangnya, imut sekali. Namun, rasanya tetap enak.

Setelah makan kupang wajib hukumnya minum es degan. Kalau kata orang tua untuk menetralisir racun yang mungkin ada di kupang. Beberapa orang mungkin alergi dengan kerang atau sejenisnya. Aku mengikuti saja sarannya karena memang enak. Makan kupang lanjut minum es degan. Kami pesan degan utuh yang dagingnya bebas dikerok sendiri. Tanpa tambahan gula atau es. Nikmat mana yang engkau dustakan.

Itu saja perjalanan eksplorasi Kenjeran. Tentu saja akan balik lagi.

Share via :
Only member can wowing to this article. Register now here