Apakah Anda Membutuhkan ‘Sleep Vacation’?

Istilah ‘sleep vacation’ atau liburan untuk tidur mungkin terdengar aneh dan tidak masuk akal. Biasanya kita berlibur untuk mengeksplorasi tempat baru, makanan, budaya setempat, atau atraksi yang ada di sekitar.
Kita bahkan merasa sayang sudah bepergian jauh-jauh, tetapi ujung-ujungnya hanya ‘pindah tempat tidur’ saja. Namun, kini banyak orang mengalami gangguan tidur atau tidurnya tidak berkualitas. Karena itu, ‘liburan untuk tidur’ bertambah populer.
Apa itu ‘sleep vacation’ dan apa manfaatnya?
Apakah Anda menyadari, selama liburan biasanya kita cenderung tidak ingin tidur. Liburan diisi dengan aktivitas seperti eksplorasi tempat, kuliner, tur, konser, dan hal-hal sejenisnya sungguh menguras energi. Namun, masih dilanjutkan dengan tidur larut malam. Tak heran sepulang dari liburan, kita malah membutuhkan liburan lagi untuk tidur.
Apalagi jika memiliki kebiasaan tidur yang tidak berkualitas. Sering terbangun saat malam hari, sudah tidur tapi merasa tidak tidur, sulit tidur, dan gangguan tidur sejenisnya.
Pada intinya, ‘sleep vacation’ mengutamakan istirahat dan pemulihan di atas segalanya. Liburan tidur ini termasuk lari dari kebisingan dan kesibukan kehidupan sehari-hari dan mencari lingkungan yang tenang untuk tidur. Perubahan pemandangan atau situasi tempat tinggal. Atau mungkin istirahat dari teman serumah atau pasangan. Atau hanya ingin mencari kasur yang lebih empuk dan luas.
Idealnya, setelah liburan tidur, pola tidur Anda akan diatur ulang. Dan ketika kembali ke tempat tidur sendiri, suasana hati Anda akan lebih baik.
‘Sleep vacation’ akan membantu mengatasi kurang tidur. Faktanya, kurang tidur bisa mengaburkan penilaian dan keterampilan pengambilan keputusan. Selain itu, bisa menyebabkan masalah kesehatan, seperti:
- Depresi
- Diabetes
- Penyakit jantung
- Tekanan darah tinggi
- Cedera seperti tabrakan, jatuh, dan sebagainya
- Penyakit ginjal
- Kegemukan
- Strok

Sebaliknya, tidur yang konsisten dan berkualitas adalah investasi untuk kesehatan jangka panjang. Tidur tujuh hingga sembilan jam tiap malam dapat membantu:
- Mengendalikan rasa lapar
- Melawan kuman
- Menstabilkan gula darah
- Mengatur emosi dan kesehatan mental
- Mendukung perbaikan otot dan pertumbuhan fisik
Perbedaan antara ‘sleep vacation’ dan ‘sleep tourism’
Selain istilah ‘sleep vacation’ ada juga ‘sleep tourism’. Apa bedanya? ‘Sleep tourism’ termasuk ‘sleep vacations’, tetapi ‘sleep tourism’ lebih condong ke gaya hidup dan hanya sekali saja.
CNN mengemukakan bahwa hotel-hotel mewah dan sejumlah perusahaan terkenal di seluruh dunia telah dibuka dengan tujuan untuk menarik wisatawan yang ingin menikmati tidur berkualitas. Dari kamar suite kedap suara hingga kasur yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan, ‘sleep tourism’ merupakan konsep mewah yang menguntungkan tetapi harus dibayar mahal. Yang mungkin tidak bisa dijangkau semua orang.
Bagaimana melakukan sleep vacation
Berbeda dengan ‘sleep tourism’, Anda tidak harus menghabiskan banyak uang untuk ‘sleep vacation’. Cukup melakukan pemesanan hotel untuk beberapa malam di kota Anda atau kota terdekat. Fokus sepenuhnya pada kesehatan dan buatlah ‘daftar untuk tidur nyenyak’. Kemudian, bawalah rutinitas tersebut ke tempat tidur Anda ketika pulang.
Sebelum tidur saat ‘sleep vacation’, Anda bisa melakukan hal ini:
- Usahakan untuk relaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, mendengarkan music yang menenangkan, meditasi atau yoga atau latihan napas.
- Membatasi konsumsi alkohol dan makanan 2 hingga 3 jam sebelum tidur.
- Membatasi paparan telepon dan alat elektronik lain 2 jam sebelum tidur.
https://www.bcbsm.mibluedaily.com/stories/health-and-wellness/do-you-need-to-book-a-sleep-vacation
