Rujak Sayur Asin: Rujak Kimchi Surabaya

Jika menyebut rujak di Surabaya, orang pasti mengaitkan dengan rujak cingur, rujak buah, rujak tolet, atau rujak serut. Jarang sekali orang menyebut rujak sayur asin. Mungkin hanya orang-orang tua yang masih mengenalnya.

Saya sebenarnya juga tidak terlalu ingat tentang rujak sayur asin. Namun, suatu siang saya melihat seorang tetangga membeli sayur asin di penjual keliling. Saya ingat dulu kakak sepupu saya juga suka makan sayur asin. Sepertinya saya sudah pernah mencobanya dan tidak suka.

Namun, karena sekarang saya suka sesuatu yang pedas, saya pun berniat mencobanya. Hampir setiap siang saya menunggu kedatangan Bapak penjual sayur asin. Entah berapa lama saya menunggunya sampai hampir melupakannya.

Akhirnya, suatu hari saya mendengarnya, “Sayur Asin! Sayur Asin!” Begitu dia menjajakan dagangannya. Tak menunggu lama, saya pun memanggilnya. Ternyata tidak setiap hari dia melewati gang depan rumah. Mungkin sudah jarang pembeli, sehingga dia harus memikirkan rute yang berbeda setiap harinya.

Rombong jualannya tidak terlalu besar dan diletakkan di belakang motornya. Ada beberapa toples besar yang berisi bahan-bahannya. Bahan utamanya sayur sawi putih yang sudah difermentasi seperti acar atau kimchi Korea.

Selain itu, ada acar mentimun, tahu putih, serta kerupuk. Semua bahan dicampur petis yang diberi kacang, cabe, dan sedikit air untuk mengencerkan. Masih ada kecap yang dikucurkan terakhir.

Jika rujak cingur terasa kaya karena bermacam bahannya, berbeda dengan rujak sayur asin ini yang dominan asam. Sawi asin ini adalah bintang utamanya. Rasa asam dari sawi dan acar mentimun berpadu dengan gurihnya petis dan pedasnya cabe. Segar! Saya suka sekarang!

Konon, sawi asin ini merupakan masakan Tionghoa yang biasa dimakan dengan iga babi atau baikut. Oleh warga lokal, sawi asin ini diramu dengan tahu dan disiram dengan sambal petis. Jadilah rujak sayur asin seperti ini.

Makanan ini populer sekitar tahun 70-90an ditandai dengan banyaknya penjualnya. Namun, kini semakin sedikit peminatnya. Sepertinya hampir punah. Hanya ada di daerah-daerah tertentu di Surabaya.

Share via :
Only member can wowing to this article. Register now here