Benarkah Anak Adalah Penghambat Orangtua Yang Ingin Traveling?


Tidak dipungkiri ya gengs, traveling saat ini bukan lagi barang mewah, hampir semua orang bisa merasakan enaknya traveling, karena harga tiket semakin terjangkau dan informasi bisa banget didapatkan dari mana saja untuk menyusun rencana perjalanan, soo.. Traveling saat ini seperti trend gaya hidup baru. Ketika sudah menikah bagi saya yang namanya traveling harus satu paket –bapak, ibu, anak- rasanya egois kalau traveling kita malah ninggalin bocah, kok orangtua malah seneng-seneng sendirian,  apalagi kalau anak dititipin pembantu, aduh makin merasa berdosa aja dah, orangtua bisa haha-hihi sementara anak nangis-nangis kangen emak dan bapaknya.


“Lalu gimana dong, secara aku tuh udah kecanduan traveling?”, nah ini nih yang menjadi dilema orang-orang yang sudah kecanduan traveling, saya pernah menjumpai orang yang curhat di sebuah grup travel, jadi dia ini kecanduan traveling dan berniat ingin keliling dunia bersama istrinya, tapi yang menjadi kendala adalah anaknya, anaknya masih kecil dan dia merasa anak adalah penghambat cita-citanya untuk keliling dunia *aduuuh, kalau anak menjadi penghambat cita-cita untuk keliling dunia, kenapa dibikin, sedih banget kan baca curhatnya T_T*, kemudian dia curhat, apa yang harus dia lakukan? Sebetulnya ini pertanyaan receh banget ya buat orangtua yang selalu mengawasi anak 24 jam, kemudian dijawablah dengan komentar-komentar orang, diantaranya :

“Ih kok egois sih, mikirin diri sendiri!”

“Travelingnya tunda dulu aja, biarkan anak besar, kalau mau ditinggal kan bisa, karena anak sudah pasti bisa mengurus dirinya sendiri”

“Anaknya dibawa, kasian kalau anak kesepian, orangtua senang-senang, apa tega?”

“Anaknya jangan dititipin orangtua, seharusnya orangtua yang diajak traveling bareng bukan jagain anak”

‘kalaupun bawa anak, apa iya anaknya ngerti diajak jalan-jalan trus, yang ada sakit di jalan”

“Jangan dititipkan ke pembantu, nanti anaknya nggak keurus. Kasian makannya jadi nggak terkontrol, mana tau anaknya hanya dikasih makan nugget, telor, bakso dan makanan nggak sehat lainnya” dan hujatan-hujatan lainnya yang saya pun sebenarnya mengaminkan sebagai orangtua yang memiliki anak, tapi nggak tega juga ikutan ngata-ngatain :D.

Tapi yang memahami bahwa traveling adalah kebutuhan batin, nasihatnya tentu saja berbeda dari orang yang hanya menganggap traveling hanya sekedar jalan-jalan, banyak dari mereka berkata,

“Kalau ingin berduaan aja, sebaiknya bawa asisten. Mungkin disaat moment-moment tertentu anak bisa ditinggal sama asisten di hotel, bapak sama ibu hanimun diluar”

“Pergi yang dekat-dekat saja dulu sebagai tes latihan bawa anak selama traveling”

“Jika ingin tetap memaksakan untuk bepergian sebaiknya bawa persiapan yang sangat matang, misalnya biar dia nggak rewel bapak harus bawa banyak perlengkapan bayi, ibu bisa lebih sabar mengkontrol emosi, karena pastinya membawa anak tidak semudah yang dibayangkan. Kondisi anak tentunya sangat berbeda dengan orang dewasa. Anak sangat mudah cape lapar dan mengantuk. Ya banyak-banyak bawa duit, mungkin lebih banyak jajan di jalan buat mengenyangkan perut anak”

Jadi solusinya bagaimana?

Traveling itu memang bikin kecanduan sih, tapi ya nggak juga maksa kepingin berangkat kalau memang masih terkendala. Kalau saya jadi dia, dan berada dalam posisi dia yang kecanduan banget jalan-jalan, saya akan melakukan hal ini :

  1. Sembari menahan diri saya akan mencoba belajar bagaimana cara yang pas agar bisa pergi sekeluarga tanpa membuat istri dan anak bête, tentunya cara ini harus difikirkan matang-matang. Kalau semua keluarga happy kan perjalanan akan menjadi hal yang mengesankan.
  2. Sembari membuat rencana-rencana traveling, saya akan coba mengelola keuangan dengan bijak dan membuat pos-pos yang urgent, agar ketika traveling saya merasa tenang, karena traveling tentu saja akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit, dengan membuat pos setidaknya saya masih mempunyai simpanan yang cukup. Jangan sampai saya bisa keliling dunia dan bersenang-senang, tapi kedepan saya tidak memiliki apa-apa.
  3. Membuat skala prioritas, mana yang harus didahulukan dalam waktu dekat, jangan saampai saya ingin jalan-jalan tapi keluarga terbengkalai, orangtua terabaikan, saya akan mencoba mengisi waktu luang ini dengan memperbaiki hubungan kekerabatan dengan tetangga, silaturahmi atau hal penting lainnya.
  4. Karena menunda keberangkatan, mungkin saya akan mengasuransikan dana perjalanan saya. Itung-itung ditabung, sukur-sukur dapat lebih he…
  5. Mengedukasi anak bahwa traveling itu menyenangkan dan membuat anak menjadi tidak sabar dengan rencana-rencana yang telah disusun

Sebetulnya membawa anak untuk traveling itu menyenangkan sekali, karena anak akan banyak belajar dari perjalanan, anak akan jadi punya pengetahuan yang luas, tapi tentu saja jika umurnya cukup dan dia sudah menikmati. Soo.. keputusan ada di tangan masing-masing orangtua sih sebenarnya.

Share via :
Only member can wowing to this article. Register now here