Menikmati Senja Di Teluk Ambon
Ambon, sebuah kota di Timur Indonesia ini dulu pernah menjadi saksi atas orang-orang yang tidak bertanggungjawab mencoreng nama baik negara Indonesia, ribut antar agama yang menimbulkan trauma pada masyarakatnya 20 tahun lalu. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Ambon tahun 2010 dan tinggal di sini selama bilangan tahun, Polisi dan TNI masih kerap berjaga-jaga di setiap sudut jalan, bahkan saya merasa masih berada di daerah siaga 1, namun karena setiap orang mulai sadar bahwa tidak ada manfaat dari ribut-ribut dan pertengkaran, sekarang kota Ambon tidak bisa lagi di provokasi. Ambon yang sempat terpuruk pun mulai berbenah dan bangkit lagi, sekarang Ambon mulai berkembang dan membangun banyak fasilitas publik yang lebih baik dimana-mana. Tahun 2015 ketika saya kembali lagi ke Ambon selepas kepindahan saya ke Makassar dan Bekasi di tahun 2012, saya mulai merasa, Ambon kota yang sangat damai.
Ketika Ambon mulai nyaman kembali ditinggali, banyak orang kemudian kembali bermigrasi ke sini, jangan heran kalau di Ambon mulai banyak bermunculan warung makan dari berbagai daerah, misalnya saja, bubur ayam Bandung, dulu waktu pertama kali saya ke Ambon, untuk mencari bubur ayam saja susahnya minta ampun, bahkan ketika pulang kampung, bubur ayam adalah makanan yang paling saya rindukan sangking tidak adanya bubur ayam di Ambon hehe.. selain bubur ayam, mulai bermuculan kuliner lain, misalnya pempek Palembang, Mie Aceh, Siomay Bandung, makanan-makanan ala Jawa Timur pun mulai banyak masuk di Ambon. Ini membuktikan, orang sudah mulai nyaman untuk tinggal di sini.

Selain mulai dipercaya oleh masyarakat karena keamanannya yang sudah sangat stabil, Ambon sangat terkenal akan keindahan alamnya. Menikmati Ambon dari dekat bahkan dari jauh tetap terasa indah. Dari jauh, kamu bisa melihat keindahan teluk Ambon dan pembangunan yang mulai menanjak dari bukit di daerah Karpan alias Karang Panjang. Pagi-pagi sekali lihatlah aktifitas-aktifitas kapal feri yang mulai menyebrang ke pulau-pulau kecil di sekitar Ambon, mama-mama yang mulai menjajakan sarapan dengan teriakan, ‘Pisaaang goreng, kasbi goreng’ (singkong lebih dikenal dengan nama kasbi kalau di Maluku). Atau tukang ikan yang berkeliing membawa potongan tong air berisi ikan segar yang kadang masih hidup. Ya, Maluku dan daerah Timur pada khususnya, memiliki sumber daya laut yang sangat berlimpah, jangan heran kalau makan ikan di Maluku sangatlah murah dan berbeda rasanya dengan ikan di daerah lain. Lebih manis dan sangat gurih, bahkan rasanya pun sangat sulit dilupakan. Ah, lezatnya jika makan dengan nasi panas dan sambal colo-colo, sambal khas Maluku. Perpaduan, gurih, kecut, pedas, dan sedikit manis menambah selera makan siang hari.
Melihat Ambon dari dekat, susurilah jalannya protokolnya. Karena kota Ambon berada di pinggir laut, tepatnya pertemuan antara teluk, maka tidak sulit untuk melihat laut birunya yang begitu indah dari dekat. Bahkan sekedar duduk di belakang pasar kota yang bernama Mardika saja kita bisa melhat keindahan laut biru dengan kapal-kapal nelayan sebagai pelengkapnya
Menikmati senja
Tidak hanya sekedar indah dari pagi, saat beranjak malam pun Ambon semakin memperlihatkan pesonanya. Jika ingin melihat sunset yang begitu indah, pergilah ke Jembatan Merah Putih, jembatan terpanjang se-Indonesia Timur ini, merupakan icon kota Ambon setelah diresmikan Presiden Jokowi beberapa tahun lalu. Di sini kamu bisa melihat keindahan teluk Ambon dan merasakan betapa kecilnya kita dihadapan Tuhan ketika sore tiba. Saat senja beringsut menggantikan malam, lampu-lampu beraneka rupa mulai gemerlap menghiasi jembatan ini, kadang berganti merah-biru-kuning-hijau dan warna-warni lainnya yang jika diabadikan akan terlihat indah. Rasakan sensasi melihat sunset dari dekat, meninggalkan peraduan, menghilang di balik lautan biru berganti malam, lalu nikmatilah angin laut yang dingin menelusup hingga ke kulit. Ayo ke Maluku!
