Asyiknya River Tubing Di Sungai Pusur
Bagi pecinta olahraga yang menantang adrenalin, jika berkunjung ke sebuah daerah pasti yang dicari adalah wahana ekstrim. Seperti dulu, waktu saya berkunjung ke Klaten dengan teman-teman blogger, saya mencoba sebuah wahana ekstrim yang santai tapi cukup menegangkan yakni river tubing di sebuah sungai bernama pusur. Walaupun terlihat sepele, hanya tiduran diatas ban besar, memandang langit dengan syahdu dan larut mengikuti arus sungai, tapi olahraga air ini ternyata melelahkan dan menegangkan, karena setelah olahraga nggak sadar kok saya kelaparan dan sangat lelah. Karena setelah disadari, ternyata tidak selamanya arus sungai tenang, badan akan berusaha menahan, bergoyang, menegang dan sesekali rileks menjaga posisi ban agar ban tidak oleng kemudian terjatuh ke dalam aliran sungai. Nah saat-saat posisi seperti inilah saya berusaha menahan badan yang pasrah terkapar di atas ban untuk tetap seimbang mengikuti arus sungai, dan akhirnya membuat energi yang kita keluarkan menjadi besar, belum lagi ditambah teriakan-teriakan dan obrolan ringan dengan sesama teman diatas ban saat tubing, energi akan semakin banyak dikeluarkan, wajar ya selesai tubing saya kelaparan hehe..

Tersebutlah sebuah desa bernama Wangen Polanharjo Klaten, yang memiliki sebuah aliran sungai bernama Pusur, berhulu di Kabupaten Boyolali dan berhilir di Bengawan Solo, sungai ini jernih, tapi beberapa tahun silam Sungai Pusur menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga oleh masyarakat sekitar, sangat kotor dan menjadi terasing. Tapi semenjak sekelompok anak muda yang kemudian mendirikan sebuah komunitas bernama ‘Tubing Pusur Adventure’ sungai ini dialih fungsikan menjadi wahana olahraga sekaligus wahana wisata.
Saya merasakan olahraga ekstrim ini secara gratis, karena menikmati wisata di sungai pusur ini merupakan salah satu dari serangkaian acara saya di Klaten bersama teman-teman Blogger yang disponsori oleh PT Tirta Investama Klaten, pabrik air mineral ini pula yang awalnya melihat kondisi Sungai Pusur yang tak lagi apik sehingga dalam program CSRnya mereka ingin turut menjaga kebersihan dan kelestarian sungai dari pencemaran sampah, sekelompok anak muda dibentuk, diberikan ban, life fest, dan helm. Mereka diajak untuk membersihkan aliran sungai pusur dari sampah plastik, seperti halnya anak muda pada umumnya, kegiatan mereka tidak luput dari kenarsisan di media sosial, tak disangka awal mula inilah yang membuat orang-orang kemudian tertarik untuk ikut merasakan sensasi river tubing.

Kalau masyarakat umum ingin merasakan olahraga ekstrim ini bisa banget membayar 50-70 ribu per orang. Sebelum mengarungi Sungai Pusur, kami diberi helm pengaman, life fest dan masing-masing dari kami diberi sebuah ban dalam traktor. Sebelum mengarungi sungai, kami diberikan pengarahan, apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Setelah mengerti apa yang harus kami lakukan di sungai tersebut, masing-masing dari kami mulai menyelam, merasakan dinginnya sungai pusur, ya ampuuun.. sumpah, baru kaki saja yang menyelam rasanya saya menggigil. Dengan dibantu pemandu, saya menaiki ban dengan susah payah, tak urung kepleset hehe, kemudian pelan-pelan dari kami dialirkan ke aliran sungai. Jika aliran sungai pelan, saya tidak merasakan ketakutan apa-apa, tapi ketika air sungai mulai deras, jantung saya mulai berdegup dan ketakutan setengah mati, takut saya terbalik dan tidak bisa berenang dan juga takut saya sendirian saat itu tidak ada yang menolong. Tapi pemandu kami menyarankan agar kami selalu mengaliri sungai secara berkelompok, agar kalau ada teman yang butuh bantuan, ada teman lain yang membantu.

Kata pemandu kami Sungai Pusur sangat indah ketika tidak adanya genangan sampah, tapi akan beda ceritanya jika sungai ini tergenang sampah akibat hujan turun, karena tidak dipungkiri sampah tersebut akan menyangkut pada bebatuan, dahan-dahan, nah bayangkan ketika kamu melintasi juntaian akar beringin dan diatasnya terdapat sampah, itu suatu hal yang mustahil untuk dihindari, karena sampah tersebut pada akhirnya akan mendarat mulus mengelus kaki, badan dan wajah. Huahaha… dan sialnya kami river tubing setelah hujan dan sampah-sampah tersebut belum sempat dibersihkan, jadi bayangkan saja bagaimana banyaknya sampah akar pohon, daun, sampah plastik yang hanyut dibawa air hujan dan menyangkut pada akar pohon, saat kami rver tubing hari itu, ah sial T_T.

Byuh.. mengalir Sungai Pusur sampai dengan garis finish tidak cukup hanya dengan waktu 1 jam, karena sore itu waktu berlari menuju senja, akhirnya olahraga ekstrim kami itu dihentikan, padahal saya masih penasaran loh ingin mengarungi sungai ini sampai garis finish, mungkin lain waktu saya akan mengunjungi kembali desa Polanharjo untuk menikmati sensasi river tubing bersama keluarga
foto : Danone