Mini Hollywood Studio Film di Gamplong, Yogyakarta

Sewaktu kecil, saya suka melihat film Hollywood yang berlatar studio film. Ada banyak set film yang bisa dibongkar pasang sesuai kebutuhan. Ternyata Indonesia juga punya studio film seperti itu. Salah satunya di Gamplong, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Studio alam ini bermula dari sebuah lapangan yang disulap menjadi set film Sultan Agung: The Untold Love Story pada 2017. Setelah selesai syuting, set filmnya tidak dirobohkan, melainkan diserahkan kepada Pemkab Sleman. Mereka mempertahankan set film yang ada sehingga terciptalah satu wahana wisata baru, studio alam Gamplong.

Dua tahun lalu, saya dan keluarga berkunjung. Itu pun karena tidak sengaja. Kami sedang berada di sekitar Sleman dan menyewa mobil untuk berkeliling. Oleh sang sopir, kami disarankan untuk mengunjungi studio ini, ketika kehabisan ide mau pergi kemana.

Posisinya tidak telalu jauh dari pusat kota Yogyakarta. Hanya tidak ada kendaraan umum saja. Harus ditempuh dengan kendaraan pribadi atau ojek daring. Jalan menuju ke sana sangat rapi seperti jalan desa pada umumnya.

Untung hari sedang cerah. Karena lokasinya di luar ruangan, maka cuaca cerah adalah kunci. Tiket masuknya gratis. Namun, jika ingin menikmati wahana tertentu harus membayar tiket masuk. Jika ingin tiket terusan juga ada.

Pertama kali datang, saya tertarik dengan trem atau kereta tua yang masih bisa berjalan. Dahulu, di tengah beberapa kota, seperti Jakarta atau Surabaya ada trem. Wujudnya seperti kereta api, tetapi relnya berada di tengah kota. Saya sering mendengar cerita ini dari para orang tua, tetapi baru kali ini menyaksikan sendiri. Saya tentu saja segera membeli tiket untuk naik trem. Suaranya kencang sekali dan jalannya lambat jika dibanding kereta api saat ini.

Trem ini berjalan di di tenngah membelah studio, sehingga kami bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Bangunan di kanan kirinya merupakan miniatur bangunan dari jaman dahulu, sehingga kita merasa seperti masuk ke lorong waktu. Ada bioskop, hotel, restoran, rumah, toko yang semuanya tiruan dan bangunan sementara, tetapi tampak seperti asli.

Ternyata ada beberapa film yang syuting di sini selain Sultan Agung. Misalnya, Bumi Manusia, Habibie & Ainun, Satria Dewa: Gatotkaca, dan beberapa film lainnya. Namun, Studio Gamplong ini sangat lekat dengan Bumi Manusia dan Habibie & Ainun. Sampai set rumah Ainun serta Annelis, tokoh di Bumi Manusia, tidak diubah. Kedua set rumah tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan menjadi semacam museum. Masuk ke rumah keduanya juga harus membayar 10ribu/rumah.

Saya sudah membaca buku Tetralogi Pulau Buru milik Pramudya Ananta Toer. Seri yang pertama adalah Bumi Manusia yang sudah difilmkan. Saya juga sudah menonton filmnya. Jadi berada di studio ini serasa masuk ke dalam film Bumi Manusia.

Setelah naik trem, kami berjalan mengelilingi studio. Ada banyak bangunan lama. Meski sebagian besar hanya replika, tetapi sangat mirip dengan aslinya. Ada telepon umum koin, mobil-mobil tua, hingga jajanan dan minuman jadul.

Pastikan HP full baterai atau bawa kamera sekalian. Karena setiap sudut sangat cocok menjadi objek foto. Tak heran tempat ini juga sering menjadi lokasi foto pre-wedding atau tempat syuting iklan.

Share via :
Only member can wowing to this article. Register now here