Taman Suroboyo: Menikmati Surabaya dari Bibir Pantai

Kalau pergi ke daerah Kenjeran, jangan lupa mampir ke Taman Suroboyo. Taman ini kurang terdengar gaungnya dibanding Bungkul atau Taman Flora Bratang. Makanya aku juga baru mendengarnya setelah balik lagi ke Surabaya setelah merantau 10 tahun.
Taman ini baru diresmikan pada 29 Mei 2019. Terbilang yang termuda dibanding dua taman yang disebutkan sebelumnya.
Aku pergi bersama orangtua, anak, dan keponakan di Minggu pagi sekitar pukul 10 pagi. Sepertinya timingnya salah ya, karena panas sekali. Kami parkir di area parkir di samping Sentra Ikan Bulak. Tepat di depan Taman Suroboyo. Yang pengen borong oleh-oleh ala Kenjeran atau ikan-ikan laut, wajib mampir Sentra Ikan Bulak ini. Kami tidak mampir karena niatnya cuma pengen ke taman.

Perjalanan dari parkiran sampai ke Taman Suroboyo asli panas. Di depantamn sudah ditawari atraksi naik kuda. Sekali keliling sekitar Rp 20 ribu. Kudanya dihias cantik dan gagah. Anak saya memilih kuda bernama “Syahrini” yang glamor sekali. Berwarna putih dengan hiasan bunga di kepalanya. Sungguh centyl. Karena naik satu kuda dua anak, Bapak kudanya minta Rp 25 ribu. Ok, deal!
Mereka naik kuda memutari Taman Suroboyo dari bagian depan sebanyak dua kali. Bonus foto-foto di depan landmark Taman Suroboyo.
Lanjut masuk ke dalam taman yang lumayan luas. Istimewanya, di tengah-tengah taman terdapat patung ikonik Suro dan Boyo tertinggi se-Surabaya. Mengalahkan yang ada di Kebun Binatang Surabaya atau di pinggir Kalimas. Patung ini dibuat oleh seniman patung ternama dari Bali, I Wayan Inten.

Selain itu, masih ada taman bermain yang bersih seperti perosotan, ayunan, dan sejenisnya. Di bawahnya terdapat alas dari pasir yang membuat lebih aman.
Kami pun mencari tempat yang teduh untuk duduk-duduk. Anak laki-lakiku tertarik untuk menerbangkan layang-layang. Kami pun membeli layangan beserta benangnya. Hanya Rp 10 ribu.
Lokasinya di pinggir pantai, maka angin sangat kencang. Jadi tidak perlu usaha untuk menerbangkan layang-layang. Beda kalau menerbangkan layang-layang di perumahan. Karena itu, dia senang sekali. Paling harus berhati-hati supaya tidak terlalu dekat dengan pemain layang-layang yang lain. Agar benangnya tidak tersangkut.

Anakku yang perempuan suka mewarnai. Di situ juga bisa mewarnai dengan alas styforoam. Banyak gambar yang bisa dipilih. Kuas dan cat air juga sudah disediakan. Tarifnya sama, Rp 10 ribu juga.
Kami para orang tua tinggal mengawasi sambil duduk di bawah pohon.
Jika ingin makan atau minum bisa membawa sendiri ala piknik. Kami membawa gorengan dan air putih. Sisanya tinggal beli di sekitar kami. Ada banyak penjual makanan dan minuman, mulai dari es teh, es degan, kupang, bakso, mi ayam, dan banyak lagi.
Jika ingin menikmati pinggir pantai, bisa pergi ke bagian belakang taman. Ada banyak warung yang view-nya langsung menghadap laut. Sayangnya air sedang surut, sehingga tidak bisa main air.
