Ayo Main Kerumah Kapiten Pattimura


 

 Siapa yang masih punya uang seribu rupiah lama? Pasti tau dong siapa pahlawan yang terpampang disana? Iyees bener, dialah kapiten Pattimura. Seorang pahlawan laki-laki dari Maluku yang gagah berani dan berjuang demi negeri tercinta. Nama aslinya adalah Thomas Matullesy, lalu kenapa disebut Pattimura? Gelar sesungguhnya adalah Patti Mula yang berarti ‘pemimpin pertama’, karena Kapiten Pattimura adalah pemimpin pertama dari Timur Indonesia yang berani menyerang Belanda, orang-orang Belanda menyebut Pattimura, karena mereka tidak dapat membedakan kata Patti Mula dan Patti Mura, jadilah Pattimura adalah julukan yang paling pas untuk Thomas Matullesy  sesuai lidah orang Belanda.

 


Lahir di Haria

Pattimura kecil lahir di Haria, sebuah desa yang sejuk di pinggir sebuah daerah bernama Saparua, Maluku Tengah. Untuk bisa pergi kesini tersedia kapal cepat dengan waktu tempuh selama 1 jam di pagi hari, kapal cepat tidak tersedia pada sore hari, jadi jika ingin pulang sore dari Saparua harus menggunakan speed dan ini sungguh beresiko karena ombak sangat kencang. Namun tempat lahir Pattimura kemudian menjadi perdebatan, ada yang mengatakan kalau Pattimura kecil lahir di Seram dengan nama kecil Ahmad Lussy, namun ada yang bersikeras mengatakan Pattimura lahir di Haria. Tidak ada yang bisa memastikan, Pattimura kecil lahir dimana hehe..

Rumah yang saya kunjungi saat itu adalah rumah asli Thomas Matullesy, rumah ini sudah mengalami renovasi hingga 4x, hanya untuk memperbaiki atap dan dinding yang sudah mulai lapuk, tentu saja sudah mulai lapuk, rumah itu sudah berdiri ratusan tahun lamanya, tapi jangan khawatir bentuknya tidak dirombak sama sekali dan tetap mempertahankan keasliannya. Sehingga pengunjung tetap dapat bernostalgia melihat bagaimana Pattimura saat itu menghabiskan masa kecilnya. Di Saparua, penduduk mayoritas beragama Nasrani, so.. jangan heran jika banyak penduduk memelihara babi dan anjing, mereka jinak berada di jalan-jalan. Dan dibiarkan begitu saja mencari makan di jalan. Cuma yang takut anjing ya emang wasallam, akan bergidik nggak berani jalan wkwk… penduduk desa Haria sangat ramah, mereka mungkin asing melihat perempuan berjilbab karena sangat jarang ada perempuan muslim di sini, ketika mereka melihat saya, pandangan mereka antara takjub dan bingung sehingga kunjungan kami saat tu mejadi perhatian.

Rumah Pattimura tersebut dijaga oleh bapak Franky Matulessy, keturunan langsung Thomas Matullesy, hanya saja si bapak tidak bercerita, beliau keturunan keberapa, mungkin bingung menjelaskan silsilahnya, tapi kalau dilihat-lihat bapak ini sangat mirip dengan Thomas Matulessy semacam reinkarnasinya, saya bolak-balik mencocokkan wajah bapak Franky dengan Pattimura di dinding, betul-betul mirip, semoga pak Franky sehat terus sehingga kalau ada yang berhasil ke Saparua bisa melihat langsung seperti apa wajah Thomas Matulessy itu, seumpah... mirip banget. Sayang saya nggak berfoto dengannya.

Di sebuah ruang pak Franky menyibak tirai yang membungkus kaca, ternyata isinya adalah sebuah kain merah berupa kain ikat kepala, selempang, celana kain tenun dan parang yang digunakan Pattimura untuk berperang, tapi sayang saya tidak melihat adanya Salawaku, yaitu tameng khas Maluku yang biasanya digunakan untuk tarian Cakelele. Dan ini biasanya digunakan pula untuk berperang.

Di dalam  rumah Pattimura sendiri kita bisa melihat banyak barang peninggalan beliau, mulai dari surat Belanda untuk Pattimura yang ditulis dengan tangan, foto-foto pejabat negara yang datang berkunjung, silsilah keluarga yang tulisannya mulai buram yang saya sendiri sulit membacanya, ini hal yang sangat sensitif sebenarnya, seharusnya ada orang atau keluarga yang berinisiatif untuk mencetak ulang kembali, agar silsilah ini tidak hilang begitu saja. Ada pula tanda tangan asli Pattimura, dan kertas-kertas lain yang buram sekali, haduh.. saya berharap pemerintah Provinsi mau berinisiatif datang dan membingkai dengan benar bukti sejarah tersebut, atau kalau perlu di Museumkan, sayang sekali kan kalau sampai buram atau hilang misalnya. Ratusan tahun kemudian pasti sangat berharga bukti sejarah ini.



15 Mei

Hari Pattimura diperingati setiap tanggal 15 Mei, di Maluku biasanya ramai perayaan ini, mulai dari doa bersama sampai renungan-renungan, juga adanya tarian khas Maluku. Sudah 200 tahun lebih sejarah mencatat, Pattimura pernah berjuang untuk Indonesia. Sudahkah kita mewarisi semangat juangnya?

Share via :
Only member can wowing to this article. Register now here