Nyicipin Enaknya Papeda
Di Maluku, tepatnya Indonesia Timur, pohon sagu sangat tumbuh subur, sehingga masyarakat di Indonesia Timur memanfaatkan pohon tersebut untuk kebutuhan hidup. Kata orang Timur, tidak ada bagian pohon sagu yang tidak bisa dimanfaatkan untuk menyambung hidup, ibarat pohon pisang, pohon sagu pun sangat bermanfaat untuk kehidupan warganya, misalnya saja : daun pohon sagu dapat dimanfaatkan untuk atap rumah (rumbia), dapat juga dijadikan anyaman keranjang atau alas duduk (tikar), pelepahnya dapat dijadikan dinding rumah, getahnya pun berguna dapat digunakan sebagai lem. Daun mudanya dapat digunakan sebagai puntung rokok, buahnya pun enak dimakan, kulit dan batang pohon dapat dijadikan kayu bakar. Oh ya kamu tau nggak? Ulat-ulat yang tinggal dipohon sagu juga dapat dimakan, dan katanya proteinnya sangat tinggi sekali. Di Papua, ulat sagu dimakan mentah begitu saja, kata orang rasanya seperti daging ayam, jangan dibayangin yah kalau nggak tahan :D, selain dimakan mentah, masyarakat Papua kerap kali menggoreng ulat-ulat tersebut dan dimakan bersama nasi, duh beneran kalau nggak ada lauk, belah pohon sagu, ambil ulatnya, goreng dan makan bersama nasi panas. Jangan lupa dicocol sambal. Jujur, saya belum berani mencoba walau kata orang Timur enak hehe..

Pernah makan Papeda nggak kamu?
Selain rasa ulatnya yang enak, ada bagian lain yang menjadi primadona dan dapat dijadikan panganan sehari-hari, yakni saripati sagu. Saripati sagu diambil dari sebuah pohon sagu yang ditebang terlebih dahulu, kemudian dikupas kulitnya dan dipotong-potong sepanjang 50-100cm. kemudian pohon sagu yang sudah dipotong menjadi kecil ini diparut dan dihancurkan dengan cara pangkur menggunakan mesin seperti mesin pemarut kelapa. Nah hasilnya berupa serpihan-serpihan kayu halus yang kemudian diletakkan di atas pelepah sagu dan diberi air. Serbuk kayu tadi diremas-remas dengan menggunakan tangan. Pada bagian bawah pelepah terdapat saringan dari kain yang berfungsi untuk menampung saripati sagu dan serat kayu, serat kayu yang tertampung dikembalikan lagi ke pelepah daun sagu dan diberi air lagi untuk kemudian diremas-remas lagi untuk mendapatkan saripati sagu. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang, sampai saripati sagu habis. Kemudian pati ini dikeringkan sampai terbentuk seperti tepung, dan tepung inilah yang akhirnya akan dikonsumsi masyarakat sekitar.
Di Indonesia Timur, banyak sekali olahan sagu yang dapat dibuat untuk konsumsi rumah tangga salah satunya adalah Papeda. Dulu, waktu masih tinggal di Maluku, Papeda yang saya konsumsi dimakan dengan ikan kuah kuning. Menurut pengamatan saya, ketika melihat orang-orang Ambon membuat Papeda, tepung sagu yang siap konsumsi di tempatkan pada sebuah wadah, diberi garam sedikit, lalu dituang dengan air mendidih lalu diaduk dengan sangat cepat sampai membentuk sebuah bubur yang jika ditarik akan menyerupai bubur lem. Papeda tidak bisa dimasak hanya dengan menggunakan air hangat, atau air panas biasa karena tidak akan terbentuk sempurna nantinya. Papeda yang sudah jadi sangat kenyal jika dimakan, orang yang tidak terbiasa mengkonsumsi papeda akan merasa eneg, tapi bagi orang yang suka dengan papeda, makanan ini lezatnya luar biasa. Sungguh saya suka banget makan papeda.
Papeda sangat kaya akan gizi, untuk orang-orang yang diet, papeda adalah salah satu solusi untuk dapat menurunkan berat badan, karena sagu pun mengandung karbohidrat yang dibutuhkan tubuh, nah belum ditambah protein hewani yang terkandung dari ikan. Makan sepiring papeda menurut saya bisa mengganti seporsi makan siang atau malam.
Apa rasa papeda?
Enaak.. ya saya sih emang pemakan segala ya wkwk.. pertama kali makan papeda di sebuah resto, disajikan dalam mangkuk besar dengan dua buah sumpit besar. Lalu bubur papeda dipilin berulang kali dan kemudian dituang ke dalam mangkuk menggunakan sumpit itu juga, makan papeda pun tidak bisa dengan alat makan lain kecuali sendok, karena tekstur yang kenyal dan agak susah diambil membuat papeda menjadi salah satu panganan yang menurut saya unik. Di Sulawesi ada makanan sejenis papeda yang pengolahannya serupa, namanya Kapurung, sama-sama dimakan dengan ikan dan dibuat dari sagu hanya saja namanya beda. Kalau kamu main ke Indonesia Timur, belum sah kalau belum makan papeda hehe..
Di Indonesia sendiri makanan dari sagu menjamur ke seantero negri, sebut saja ada kue laupek sage, makanan khas Aceh yang dihidangkan untuk acara pernikahan. Kue rangi dari Betawi, kue ini enak banget disantap untuk cemilan sore atau sarapan disajikan dengan teh. Ada pula ongol-ongol, kue khas Jawa Barat yang kerap dijual di pasar, disajikan dengan parutan kelapa, berpadu dengan gula aren, lumer dimulut, atau ada kue lebaran yang suka ada di toples-toples masyarakat Jawa tengah, sagon. Dan banyak lagi olahan sagu yang bisa diolah menjadi panganan lezat, sepatutnyalah kita berbangga hati memiliki kekayaan hayati dan cita rasa negri yang tak dimiliki negara lain.